Total Kekayaan 7 Taipan Properti Hong Kong Menyusut US$ 7,7M Akibat Covid-19

Edwar Septa Peratin Pardasuka Ngaras,Sampaikan Ucapan Terimakasih Kepada Kementerian Pupr,Atas Realisasi Program Bsps Tahun Anggaran 2020.
Agustus 11, 2020

Kompas Nusantara Online – Sektor properti di Hong Kong telah mendapat pukulan ganda tahun ini. Setelah terseok akibat kerusuhan politik yang berkepanjangan, sektor ini juga harus menerima pukulan tambahan dengan merebaknya pandemi Covid-19 yang hingga kini belum diketahui kapan akan berujung.

Tujuh taipan properti Hong Kong dengan total kekayaan sebesar US$ 107 miliar telah kehilangan sebesar US$ 7,7 miliar tahun ini akibat pukulan ganda tersebut. Indeks yang melacak pengembang telah anjlok 21%, melampaui penurunan yang terjadi grup industri lainnya.

Kekayaan para maestro properti ini langusung menyusut setelah pandemi Covid-19 menghalangi para turis masuk ke Hong Kong dan adanya pengesahan Undang-undang Keamanan Nasional yang akan mengancam status Hong Kong sebagai pusat keuangan dunia.

Kondisi mereka semakin diperburuk oleh langkah Sekretaris Keuangan Kota yang mendesak para pemilik properti menawarkan konsesi kepada penyewa dengan harga tinggi, bahkan beberapa diantaranya merupakan yang tertinggi di dunia. Langkah itu ditujukan pemerintah Hong Kong untuk mengatasi krisis.

Mengutip Bloomberg, Senin (10/8), pendapatan ritel Wharf Real Estate Investment, perusahaan miliki taipan Peter Woo, anjlok hampir sepertiganya di paruh pertama tahun ini. Akibatnya, perusahaan ini harus merugi sebesar HK $ 7,4 miliar atau US$ 955 juta . Sementara pendapatan penjualan CK Asset Holdings Ltd milik Taipan Li Ka-shing merosot lebih dari 60%.

Sun Hung Kai Properties Ltd milik Kwok bersaudara telah memangkas harga sewa untuk beberapa penyewa. Penguasa sebagian besar wilayah Dictric Central di Hong Kong ini telah mencatatkan tingkat kekosongan jaadi 5% pada akhir Juni 2020 dari hanya 2,9% pada akhir Desember 2019.

Beberapa pengembang yang belum melaporkan pendapatan paruh pertama dan telah memperkirakan hasilnya berpotensi mengecewakan. Salah satunya adalah Swire Properties Ltd dari Merlin Swire. Perusahaan ini memprediksi membukukan penurunan keuntungan substansial pada Juni dan kerugian sekitar HK $ 2,6 miliar pada revaluasi properti investasi.

Secara keseluruhan, tingkat kekosongan gedung perkantoran di Hong Kong berada pada posisi tertinggi dalam lebih dari satu dekade karena perusahaan asing mengurangi operasi mereka di Hong Kong. Traffic mal turun lebih dari sepertiga dari tahun lalu.

Kekayaan Taipan Li Ka-shing menyusut US$ 1,8 miliar menjadi US$ 27,9 miliar, Lee Shau Kee US$ 4 milir menjadi US$ 20,1 miliar, Raymond Kwok kehilangan US$ 1,7 miliar menjadi US$ 10,5 miliar, Thomas Kwok kehilangan US$ 1,7 miliar jadi US$ 10,1 miliar dan Geoffrey Kwok menyusut US$ 1,2 miliar menjadi US$ 6,2 miliar. Sedangkan Henry Cheng masih mencatat kenaikan kekayaan sebesar US$ 1,6 miliar jadi US$ 18,4 miliar dan Peter Woo naik US$ 1,1 miliar menjadi US$ 13,8 miliar.

Para taipan real estate Hong Kong sebagian besar mendukung UU keamanan. Asosiasi yang membawahi pengembang termasuk CK Asset dan Lee Shau Kee’s Henderson Land mengatakan mendukungnya karena akan menjamin stabilitas dan kemakmuran. Menurut para taipan tersebut jika ingin tinggal dan menghasilkan uang di Hong Kong maka mereka mendukung hukum yang berlaku.

Namun bagi sebagian orang, maestro real estate turut jadi pemicu protes yang mengarah pada undang-undang keamanan nasional. Media pemerintah China berpendapat bahwa rumah mahal di Hong Kong adalah alasan kerusuhan sosial tahun lalu dan mengecam para taipan karena menopang harga properti. Itu mendorong para pengembang termasuk Pengembangan Dunia Baru dari keluarga Cheng dan Henderson Land untuk menyumbangkan bidang tanah untuk amal. ( Sumber : kontan.co.id )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Call